Universitas Bang Google
Dulu pada saat saya mahasiswa (1993-1999), saya pernah membaca sebuah buku filsafat populer yang nasihatnya sangat bermanfaat bagi pengembangan wawasan saya hingga hari ini. Sang penulis, saya lupa namanya, mengatakan bahwa kunci untuk membuka ilmu pengetahuan itu adalah bertanya.
Tidak seperti sekarang, dahulu saat ada pertanyaan dalam otak saya, maka secara otomatis muncul gedung perpustakaan daerah dalam otak saya. Perpustakaan adalah satu-satunya tempat yang mampu menjawab berbagai pertanyaan tanpa biaya tanpa interaksi emosi. Perpustakaan favorit saya adalah perpustakaan provinsi Yogyakarta, yang terletak di daerah Pingit. Perpustakaan ini selain mengkoleksi ribuan buku, juga mudah diakses dari kampus dan rumah kontrakan saya. Tempatnyapun nyaman karena perpustakaan ini memiliki meja yang besar dan bersih, ruangan yang tenang dan segar serta dilengkapi kantin untuk makan siang dan menghisap rokok, dan mushola kecil untuk sholat dan tidur-tiduran.
Untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya, saya harus nongkrongin Perpustakaan itu berjam-jam lamanya. Seringkali saya harus mengunjungi perpustakaan tercinta itu ketika satpam baru saja beberapa detik membuka pintu dan pulang 5 menit sebelum satpam yang ramah itu menutup pintu.
Selama 9 jam saya diperpustakaan, yaitu dari pukul 8 pagi hingga pukul lima sore, 1 jam saya pergunakan untuk makan, sholat dan tidur ayam di Mushola setempat. Sisanya, sekitar 2 jam mencari judul buku yang diperlukan dalam ruangan berukuran sekitar 600 m2, 2 jam membaca kata pengantar dan daftar isi buku-buku yang ditargetkan, dan hanya sekitar 4 jam saja waktu yang saya pergunakan untuk membaca dan mencatat informasi yang diperlukan. Dari 4 jam proses memegang buku-buku itu sangat sedikit susunan kalimat yang dapat saya baca, sehingga sangat sedikit yang dapat saya catat. Dari sedikit informasi yang saya catat itu yang lebih sedikit lagi adalah apa yang saya ingat. Dari yang sedikit yang mampu saya ingat itu, jauh lebih sedikit lagi informasi yang bermanfaat dan saya perlukan.
Jika saya tidak puas dengan apa yang saya temukan di perpustakaan daerah itu, maka saya harus berkeliling ke pusat-pusat penjualan buku di Yogyakarta, seperti di shooping, Gramedia, di Cik Di Tiro, atau Jalan Gejayan. Saya juga sering menyelinap masuk ke perpustakaan kampus-kampus hebat yang tidak sekedar memiliki koleksi buku aneh, langka dan mahal, tapi juga dikelola dengan sistem komputer yang canggih, seperti Perpustakaan UGM, dan perpustakaan STIE YKPN, dengan resiko diseluruh keluar jika ketahuan bukan mahasiswa setempat.
Dengan kehadiran google, saya menjadi sangat jarang mengunjungi perpustakaan, saya juga sangat jarang membaca buku, kecuali buku novel dan beberapa buku menjelang tidur. Saya lebih sering mengunjungi Google, sebuah mesin pencari yang begitu canggih yang mampu mengumpulkan berbagai informasi dari seluruh dunia dan menyajikannya kepada kita dalam hitungan detik.
Saya lebih memilih Google karena waktu yang diperlukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang saya perlukan bisa puluhan kali lebih cepat, ratusan kali lebih efektif dan mungkin (karena saya belum pernah menghitungnya) ribuan kali lebih efisien.
Saat muncul pertanyaan dibenak saya, saya tidak perlu beranjak dari tempat saya duduk, saya hanya memerintahkan Google untuk mencari informasi yang saya perlukan dengan mengetikan key word pada box halam depan situsnya. Lalu, dalam hitungan detik, ratusan web muncul dihadapan saya. Saya tinggal memilih web itu, membaca cepat informasi yang saya perlukan, menutupnya jika tidak ditemukan, membacanya jika menarik perhatian, lalu merekamnya ke hardisk komputer jika diperlukan.
Hadirnya Google yang dipergunakan oleh 74% jurnalis dari seluruh dunia itu, telah merubah tradisi dan gaya belajar saya. Saya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi perpustakaan satu ke perpustakaan lainnya, dari toko buku satu ke toko buku lainnya. Saya tidak perlu lelah berjalan dari rak buku satu ke rak buku lainnya untuk mencari buku yang saya perlukan. Dan saya pun tidak perlu kehabisan waktu untuk mencatat, karena informasi yang diperlukan tinggal di simpan di hardisk komputer saya dengan sekali klik sehingga ribuan kalimat dapat tersimpan dan dapat kembali dibaca jika suatu saat diperlukan.
Pendek kata Google tak hanya menjadi kampus terdekat saya dekat, tapi juga seorang Guru Besar yang mampu merubah struktur pengetahuan saya. Saya jadi pemakan informasi yang rakus.
Saya ketahui itu setelah saya membuka brangkas file penyimpanan informasi di Komputer saya. Saya terkagum-kagum melihat isinya. Bukan terkagum-kagum dengan diri saya, tapi terkagum-kagum dengan bagaimana Google mampu mengarahkan saya dalam menimba ilmu pengetahuan.
Saya menemukan puluhan folder yang berkaitan dengan masalah filsafat, agama, perubahan sosial, masalah perekonomian dunia, perekonomian nasional, entrepreneurship, marketing, public relation’s, jurnalistik, cara belajar, cara menulis, cara mendesain, bermain gitar praktis, fotografi, tekhnik berburu, tekhnik memancing, dan puluhan folder lainnya. Anehnya, puluhan folder, ratusan sub folder, dan ribuan file itu berisi informasi dan pengetahuan yang sebagian besar telah saya amalkan semua. Artinya, informasi yang terkumpul itu benar-benar telah bermanfaat dalam kehidupan saya sehari-hari. Bukan informasi dan pengetahuan sampah (tidak diperlukan) yang seringkali dicekoki oleh guru dan dosen kita selama dibangku sekolah.
Google bukan sekedar sebagai situs pencari, tapi sudah menjadi universitas kehidupan, sebuah lembaga sekaligus sumber pengembangan ilmu yang memuat beragam cabang ilmu pengetahuan. Saya bisa belajar melalui Google tanpa harus membayar sepeserpun.
Karena kehadiran Google, saya juga telah mulai meninggalkan tradisi ‘nyantrik’, yang sering kali saya lakukan dulu, yaitu tradisi mengunjungi orang berilmu, ntah profesor, ntah Doktor, filosof atau para pemikir, untuk menimba ilmu dan pengetahun mereka. Bagi saya, Google adalah pembantu tanpa kepentingan, Google adalah seorang profesor, seorang doktor, seorang filosof, seorang pemikir, sebuah perpustakaan super besar, dan sebuah universitas raksasa.
Pada tahun 2008, saat saya menjabat sebagai Pembantu Direktur III di Akademi Manajemen Perusahaan Panca Bhakti selama lebih kurang 1,5 tahun, saya pun melakukan riset kecil-kecilan. Saya mengenalkan Google sebagai sebuah universitas yang hebat kepada sekelompok mahasiswa saya. Pada awalnya saya kenalkan mereka dengan teknologi internet di kantor, cafe atau warnet yang saya sewa secara khusus. Saya latih mereka dengan mengetikan keyword di Google agar bisa menjadi pembelajar yang mandiri. Hasilnya hampir 90% dari mereka hari ini jauh lebih mandiri (mencari uang sendiri) dibandingkan mahasiswa lainnya. Merekapun lebih percaya diri, lebih mampu mencari way out dalam mengatasi persoalan hidup mereka, lebih mampu menjadi manusia ketimbang robot.
Setelah yakin dengan hasil riset kecil-kecilan tersebut, lalu bersama para pengelola kampus lainnya saya berupaya untuk menghadirkan internet di kampus secara gratis. Lewat bantuan H. Gusti Syamsumin, Anggota DPR RI yang juga seorang pendidik yang sangat bijak itu, kami mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat. Sebagian besar dana itu kami alkoasikan untuk membuat laboratorium komputer lengkap dengan akses internet di dalamnya. Saya berharap kehadiran lab komputer itu mahasiswa dapat mengenal Google dan menjadikan ia sebagai universitas besar di dalam kampus yang kecil.
Alhamdulillah, laboratorium dengan akses internet dan Universitas Google di dalamnya berhasil dibangun di kampus kecil itu. Setelah berdiri, sayapun mengundurkan diri sebagai pengelola kampus.
31 Mei 2010Tidak seperti sekarang, dahulu saat ada pertanyaan dalam otak saya, maka secara otomatis muncul gedung perpustakaan daerah dalam otak saya. Perpustakaan adalah satu-satunya tempat yang mampu menjawab berbagai pertanyaan tanpa biaya tanpa interaksi emosi. Perpustakaan favorit saya adalah perpustakaan provinsi Yogyakarta, yang terletak di daerah Pingit. Perpustakaan ini selain mengkoleksi ribuan buku, juga mudah diakses dari kampus dan rumah kontrakan saya. Tempatnyapun nyaman karena perpustakaan ini memiliki meja yang besar dan bersih, ruangan yang tenang dan segar serta dilengkapi kantin untuk makan siang dan menghisap rokok, dan mushola kecil untuk sholat dan tidur-tiduran.
Untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya, saya harus nongkrongin Perpustakaan itu berjam-jam lamanya. Seringkali saya harus mengunjungi perpustakaan tercinta itu ketika satpam baru saja beberapa detik membuka pintu dan pulang 5 menit sebelum satpam yang ramah itu menutup pintu.
Selama 9 jam saya diperpustakaan, yaitu dari pukul 8 pagi hingga pukul lima sore, 1 jam saya pergunakan untuk makan, sholat dan tidur ayam di Mushola setempat. Sisanya, sekitar 2 jam mencari judul buku yang diperlukan dalam ruangan berukuran sekitar 600 m2, 2 jam membaca kata pengantar dan daftar isi buku-buku yang ditargetkan, dan hanya sekitar 4 jam saja waktu yang saya pergunakan untuk membaca dan mencatat informasi yang diperlukan. Dari 4 jam proses memegang buku-buku itu sangat sedikit susunan kalimat yang dapat saya baca, sehingga sangat sedikit yang dapat saya catat. Dari sedikit informasi yang saya catat itu yang lebih sedikit lagi adalah apa yang saya ingat. Dari yang sedikit yang mampu saya ingat itu, jauh lebih sedikit lagi informasi yang bermanfaat dan saya perlukan.
Jika saya tidak puas dengan apa yang saya temukan di perpustakaan daerah itu, maka saya harus berkeliling ke pusat-pusat penjualan buku di Yogyakarta, seperti di shooping, Gramedia, di Cik Di Tiro, atau Jalan Gejayan. Saya juga sering menyelinap masuk ke perpustakaan kampus-kampus hebat yang tidak sekedar memiliki koleksi buku aneh, langka dan mahal, tapi juga dikelola dengan sistem komputer yang canggih, seperti Perpustakaan UGM, dan perpustakaan STIE YKPN, dengan resiko diseluruh keluar jika ketahuan bukan mahasiswa setempat.
Dengan kehadiran google, saya menjadi sangat jarang mengunjungi perpustakaan, saya juga sangat jarang membaca buku, kecuali buku novel dan beberapa buku menjelang tidur. Saya lebih sering mengunjungi Google, sebuah mesin pencari yang begitu canggih yang mampu mengumpulkan berbagai informasi dari seluruh dunia dan menyajikannya kepada kita dalam hitungan detik.
Saya lebih memilih Google karena waktu yang diperlukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang saya perlukan bisa puluhan kali lebih cepat, ratusan kali lebih efektif dan mungkin (karena saya belum pernah menghitungnya) ribuan kali lebih efisien.
Saat muncul pertanyaan dibenak saya, saya tidak perlu beranjak dari tempat saya duduk, saya hanya memerintahkan Google untuk mencari informasi yang saya perlukan dengan mengetikan key word pada box halam depan situsnya. Lalu, dalam hitungan detik, ratusan web muncul dihadapan saya. Saya tinggal memilih web itu, membaca cepat informasi yang saya perlukan, menutupnya jika tidak ditemukan, membacanya jika menarik perhatian, lalu merekamnya ke hardisk komputer jika diperlukan.
Hadirnya Google yang dipergunakan oleh 74% jurnalis dari seluruh dunia itu, telah merubah tradisi dan gaya belajar saya. Saya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi perpustakaan satu ke perpustakaan lainnya, dari toko buku satu ke toko buku lainnya. Saya tidak perlu lelah berjalan dari rak buku satu ke rak buku lainnya untuk mencari buku yang saya perlukan. Dan saya pun tidak perlu kehabisan waktu untuk mencatat, karena informasi yang diperlukan tinggal di simpan di hardisk komputer saya dengan sekali klik sehingga ribuan kalimat dapat tersimpan dan dapat kembali dibaca jika suatu saat diperlukan.
Pendek kata Google tak hanya menjadi kampus terdekat saya dekat, tapi juga seorang Guru Besar yang mampu merubah struktur pengetahuan saya. Saya jadi pemakan informasi yang rakus.
Saya ketahui itu setelah saya membuka brangkas file penyimpanan informasi di Komputer saya. Saya terkagum-kagum melihat isinya. Bukan terkagum-kagum dengan diri saya, tapi terkagum-kagum dengan bagaimana Google mampu mengarahkan saya dalam menimba ilmu pengetahuan.
Saya menemukan puluhan folder yang berkaitan dengan masalah filsafat, agama, perubahan sosial, masalah perekonomian dunia, perekonomian nasional, entrepreneurship, marketing, public relation’s, jurnalistik, cara belajar, cara menulis, cara mendesain, bermain gitar praktis, fotografi, tekhnik berburu, tekhnik memancing, dan puluhan folder lainnya. Anehnya, puluhan folder, ratusan sub folder, dan ribuan file itu berisi informasi dan pengetahuan yang sebagian besar telah saya amalkan semua. Artinya, informasi yang terkumpul itu benar-benar telah bermanfaat dalam kehidupan saya sehari-hari. Bukan informasi dan pengetahuan sampah (tidak diperlukan) yang seringkali dicekoki oleh guru dan dosen kita selama dibangku sekolah.
Google bukan sekedar sebagai situs pencari, tapi sudah menjadi universitas kehidupan, sebuah lembaga sekaligus sumber pengembangan ilmu yang memuat beragam cabang ilmu pengetahuan. Saya bisa belajar melalui Google tanpa harus membayar sepeserpun.
Karena kehadiran Google, saya juga telah mulai meninggalkan tradisi ‘nyantrik’, yang sering kali saya lakukan dulu, yaitu tradisi mengunjungi orang berilmu, ntah profesor, ntah Doktor, filosof atau para pemikir, untuk menimba ilmu dan pengetahun mereka. Bagi saya, Google adalah pembantu tanpa kepentingan, Google adalah seorang profesor, seorang doktor, seorang filosof, seorang pemikir, sebuah perpustakaan super besar, dan sebuah universitas raksasa.
Pada tahun 2008, saat saya menjabat sebagai Pembantu Direktur III di Akademi Manajemen Perusahaan Panca Bhakti selama lebih kurang 1,5 tahun, saya pun melakukan riset kecil-kecilan. Saya mengenalkan Google sebagai sebuah universitas yang hebat kepada sekelompok mahasiswa saya. Pada awalnya saya kenalkan mereka dengan teknologi internet di kantor, cafe atau warnet yang saya sewa secara khusus. Saya latih mereka dengan mengetikan keyword di Google agar bisa menjadi pembelajar yang mandiri. Hasilnya hampir 90% dari mereka hari ini jauh lebih mandiri (mencari uang sendiri) dibandingkan mahasiswa lainnya. Merekapun lebih percaya diri, lebih mampu mencari way out dalam mengatasi persoalan hidup mereka, lebih mampu menjadi manusia ketimbang robot.
Setelah yakin dengan hasil riset kecil-kecilan tersebut, lalu bersama para pengelola kampus lainnya saya berupaya untuk menghadirkan internet di kampus secara gratis. Lewat bantuan H. Gusti Syamsumin, Anggota DPR RI yang juga seorang pendidik yang sangat bijak itu, kami mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat. Sebagian besar dana itu kami alkoasikan untuk membuat laboratorium komputer lengkap dengan akses internet di dalamnya. Saya berharap kehadiran lab komputer itu mahasiswa dapat mengenal Google dan menjadikan ia sebagai universitas besar di dalam kampus yang kecil.
Alhamdulillah, laboratorium dengan akses internet dan Universitas Google di dalamnya berhasil dibangun di kampus kecil itu. Setelah berdiri, sayapun mengundurkan diri sebagai pengelola kampus.
Bungben Pontianak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar